Sebuah cerita lucu tapi sarat hikmah dan penuh muatan pelajaran dari
tatar sunda, dongeng si kabayan. sangat menarik dan inspiratif untuk
direnungkan.
Konon, pada suatu hari si kabayan sedang berjalan disebuah turunan, dia
menangis tersedu-sedu seperti sedang kehilangan sesuatu yang sangat
berharga. aneh sekali, padahal semua orang sangat gembira ketika sedang
berjalan menemui turunan. teman si kabayan saat itu kebetulan melihatnya
sangat terheran-heran. lalu, teman si kabayan itu bertanya : “kenapa
kamu kabayan, kelihatan sedih sekali sampai air matamu bercucuran ?”
Lantas si kabayan sambil terisak-isak penuh dengan iba, menjawab : “hey
kamu tidak tahu, saya sedih karena setelah sekarang kita enak menuruni
bukit sambil santai, sebentar lagi kita akana menemukan tanjakan dan
pasti melelahkan serta menguras tenaga, jadi saya sangat sedih sekali.”
Sesaat kemudian, tangisan si kabayan berhenti ketika perjalanannya
melintasi tanjakan yang cukup melelahkan. akan tetapi dasar si kabayan,
justru di tanjakan dia jadi tertawa-tawa berbahagia.
Tentu saja temannya tadi kembali merasa heran, lantas bertanya kepada
si kabayan : “hey, kamu kabayan, aneh sekali, tadi menangis sekrang
ketika jalan menanjak malah ketawa-ketawa, bukannya sedih.” dengan
lugunya kabayan menjawab : tentu dong saya tertawa dan merasa gembira
karena sebentar lagi akan turun dari tanjakan ini.”
Cerita tentang si kabayan di atas memang agak berlebihan dan hanya
sekedar perilaku si kabayan yang tukang ngabodor. tapi, dari cerita ini
bisa kita jadikan inspirasi untuk menangkap beberapa hikmah kehidupan.
si kabayan mengajarkan kepada kita untuk :
Pertama, optimis bahwa sesudah kesulitan akan ada kemudahan. kedua,
kesadaran akan perlunya menyikapi dengan bijak paradoks antara kesedihan
dan kesenangan. dalam hidup sedih dan bahagia datang silih berganti dan
tidak ada yang abadi. kesedihan hari ini, pasti di hari yang akan
datang berubah jadi bahagia.
Ketika kita mampu menyelami lebih dalam—berkaca dari kisah kabayan
diatas—apa yang terjadi antara pergantian sedih dan bahagia, antara suka
dan duka, serta ketika kita mampu menyikapinya secara proposional :
kebahagian, kesenangan, kegembiraan yang kita dapatkan akan menjadikan
kita orang yang pandai bersyukur atas nikmat-Nya. sebaliknya, kesedihan,
duka, akan menjadikan kita pribadi yang pandai bersabar dan menguatkan
ibadah kepada Allah SWT.
Sumber: syamsuri12.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 Mei 2014
Senin, 12 Mei 2014
Kisah Tukang Cukur yang Mempertanyakan Adanya Tuhan
Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan
merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya
dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN.
Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau TUHAN itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya si konsumen.
“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa TUHAN itu tidak ada”.
“Katakan kepadaku, jika TUHAN itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah?” .
“Jika TUHAN ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan”.
“Saya tidak dapat membayangkan TUHAN Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (Jawa : mlungker-mlungker – Red), kotor dan brewok, tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata :
“Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini TIDAK ADA TUKANG CUKUR..!”
Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : “Kamu kok bisa bilang begitu?”.
“Saya tukang cukur dan saya ada di sini. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu TIDAK ADA! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.
“Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
“Apa yang kamu lihat itu adalah SALAH MEREKA SENDIRI, mengapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?”, jawab si tukang cukur membela diri.
“COCOK, SAYA SETUJU..!” kata si konsumen.
“Itulah point utamanya!.. Sama dengan TUHAN.
“Maksud kamu bagaimana?”, tanya si tukang cukur tidak mengerti.
Sebenarnya TUHAN ITU ADA ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.?
Mengapa orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU mencari-NYA..?
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”
Si tukang cukur terbengong!!!! Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa kata dia..mengapa aku tidak mau datang kepada TUHANKU, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang TUHAN.
Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya kalau TUHAN itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya si konsumen.
“Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa TUHAN itu tidak ada”.
“Katakan kepadaku, jika TUHAN itu ada. Adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah yang hidupnya susah?” .
“Jika TUHAN ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan”.
“Saya tidak dapat membayangkan TUHAN Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”.
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon apa yang dikatakan si tukang cukur tadi, karena dia tidak ingin terlibat adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (Jawa : mlungker-mlungker – Red), kotor dan brewok, tidak pernah dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur tadi dan berkata :
“Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini TIDAK ADA TUKANG CUKUR..!”
Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : “Kamu kok bisa bilang begitu?”.
“Saya tukang cukur dan saya ada di sini. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu TIDAK ADA! Sebab jika tukang cukur itu ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.
“Ah tidak, tapi tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
“Apa yang kamu lihat itu adalah SALAH MEREKA SENDIRI, mengapa mereka tidak datang kepada saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya?”, jawab si tukang cukur membela diri.
“COCOK, SAYA SETUJU..!” kata si konsumen.
“Itulah point utamanya!.. Sama dengan TUHAN.
“Maksud kamu bagaimana?”, tanya si tukang cukur tidak mengerti.
Sebenarnya TUHAN ITU ADA ! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.?
Mengapa orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU mencari-NYA..?
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”
Si tukang cukur terbengong!!!! Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa kata dia..mengapa aku tidak mau datang kepada TUHANKU, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”
Jika Anda berpikir bahwa TUHAN ITU ADA, sampaikan cerita ini kepada orang lain. Semoga kita selalu mendapat kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Amien..Sumber: isdaryanto.com
Minggu, 26 Januari 2014
cerita hikmah :: ♥ Jangan Benci Aku Mama ♥
Bissmillahir rohmaanir rohiim..
“Assalamu'alaikum.wr.wb”
Saudara dan Sahabat ku yg InsyaAllah sllu dirahmati ALLAH SWT..
kami ingin berbagi cerita, berbagi hikmah.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.......
yuk kita luangkan sedikit waktu kita untuk membaca kisah di bawah ini.
yang suka mmbaca, silahkan dibaca dan renungkan..dan yang 'blum' suka membaca, yuk belajar suka membaca! :D
Cerita Kisah berikut ini Berjudul.. ♥ Jangan Benci Aku Mama ♥
(Tangisan Rindu)
“Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki dan suami-ku memberi nama ia Erik.
Aku dan suami-ku begitu bahagia namun ternyata anak-ku mengalami keterbelakangan mental.
Melihat keadaan anak-ku, aku berniat memberikannya kepada orang lain atau dititipkan dipanti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.
Namun suami-ku mencegah niat buruk itu.
Akhirnya dengan terpaksa ku besarkan juga Erik anak-ku..”
“Ditahun kedua setelah Erik dilahirkan, aku dikaruniai seorang anak perempuan cantik yang mungil, ku beri nama Angel.
Aku sangat menyayangi Angel,
demikian juga suami-ku.
Sering kali kami mengajaknya pergi ketaman hiburan, dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.
Namun tidak demikiannya dengan Erik.
Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut.
Suami-ku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikan baju baru untuk Erik, namun aku melarangnya dengan dalih 'penghematan uang keluarga'.
Entah kenapa aku begitu benci melihat Erik hingga tak sedikit-pun aku merasa peduli denganya..”
“Saat usia Angel 2 tahun, suami-ku meninggal dunia.
Erik ketika itu berusia 4 tahun.
Keluarga kami menjadi semakin miskin, dengan hutang yang semakin menumpuk.
Akhirnya aku mengambil keputusan yang membuat-ku menyesal seumur hidup.
Aku pergi meninggalkan kampung halaman-ku bersama Angel, dan meninggalkan Erik yang sedang tertidur lelap kala itu..”
“Setelah meninggalkan kampung halaman, aku memilih tinggal disebuah rumah kecil, sisa menjual tanah untuk membayar utang aku dan suami-ku dulu..”
“10 tahun berlalu sejak kejadian itu....”
“Kini aku telah menikah kembali dengan seorang pria dewasa yang mapan bernama Beni.
Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima.
Berkat suami-ku, aku mampu menghilangkan sifat-sifat buruk-ku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah menjadi lebih sabar dan penyayang..”
“Angel kini telah berumur 12 tahun.
Dan ia kami sekolahkan disebuah sekolah perawatan.
Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik, dan tiada lagi yang mengingatkannya.
Sampai suatu malam, aku bermimpi tentang seorang anak.
Wajahnya tampan, namun tampak pucat sekali.
Ia melihat kearah-ku, sambil tersenyum ia berkata;
“Tante, tante.. Kenal mama saya? Saya rindu sekali dengan Mama”.
Setelah berkata demikian ia mulai berakjak pergi, namun aku menahannya,
“Tunggu..., sepertinya aku mengenal-mu. Siapa nama-mu anak manis..?”
“Nama saya Erik, Tante..!”
“Erik.?! Erik... Ya Tuhan! engkau benar-benar Erik..?”
Aku langsung tersentak terbangun.
Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa-ku saat itu juga.
Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dahulu, seperti sebuah film yang diputar dikepala.
Baru sekarang aku menyadari betapa jahatnya perbuatan-ku.
Rasanya seperti ingin mati saat mengingat itu.
Rasa bersalah mengahantui jiwa hingga tinggal seinci jarak pisau akan aku goreskan kepergelangan tangan, bayang Erik kembali terlintas dan berkata “Mama, Jemput Erik yah Ma, Erik Rindu Mama..”
Aku tersadar dalam derai jiwa sesal-ku.
“Tunggu Mama Nak, Mama akan menjemput Erik, Maafkan Mama Nak..” ucap jiwa sesal ketika itu.
Sore itu juga aku memarkir mobil biru-ku disamping sebuah gubuk, bersama suami-ku yang masih merasa heran dengan sikap-ku.
Suami-ku berkata:
“Maryam, apa yang sebenarnya terjadi..?”
Sambil menangis terisak-isak aku berkata:
“Suami-ku, engkau pasti akan sangat membenci-ku setelah aku ceritakan hal yang telah ku lakukan dulu..”
Tuhan begitu baik kepada-ku memberikan aku Suami-ku begitu baik dan pengertian, setelah tangis-ku reda, aku-pun keluar dari mobil diikuti oleh suami-ku dari belakang.
Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dihadap-ku.
Betapa ku ingat, gubuk ini pernah aku tempati beberapa tahun lamanya dan Erik.....Erik....
Aku meninggalkan Erik disana 10 tahun yang lalu.
Dengan perasaan sedih aku-pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu.
Gelap sekali....
Tidak terlihat sesuatu apa-pun!
Perlahan mata-ku mulai terbiasa dengan kegelapan ruangan kecil itu.
Namun aku tidak menemukan siapa-pun juga didalamnya.
Hanya ada sepotong kain butut tergeletak dilantai tanah.
Ku amati kain itu.
Mata-ku mulai berkaca...
Aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari.
Aku bertanya dalam Hati “Dimana engkau Nak..? Mama disini, maafkan Mama, Mama ingin menjemput-mu Anak-ku..”
Dari luar terdengar suara langkah kaki..
Aku bergegas mengejar langkah itu.
Namun ia bukan-lah Erik, ternyata ia adalah seorang wanita tua.
“Heii...!! Siapa kamu..? Mau apa kamu kemari.?” Tanya Wanita tua itu.
Dengan memberanikan diri aku bertanya kepada nya:
“Ibu.. Apakah ibu kenal dengan seorang anak yang bernama Erik, yang dulu tinggal disini..?”
Tiba-tiba ia menjawab:
“Kalau engkau Ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk.! Tahukan kamu 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya disini, Erik tiada henti memanggil nama-mu “Mama...,Mama...MaaaMaa” Karena tidak tega saya memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu..!!
Tiga bulan yang lalu Erik meninggal, ia meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis selama bertahun-tahun untuk menulis ini untuk-mu..!” Kata Wanita tua itu sambil menyodorkan secarik kertas itu.
Aku-pun membaca isi dari tulisan itu:
(“Mama.. mengapa Mama tidak kembali lagi...? Mama benci yah sama Erik..? Ma.... biar-lah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji kalau Mama tidak akan benci lagi sama Erik..
Ma.. Erik rindu Mama.. Erik sayang Mama...”
(TANGISAN RINDU)
♥ ____________________ ♥
“Wahai Bunda..
Jangan-lah engkau membuang titipan Syurga itu..!!
Bukan-kah ia adalah Anugrah yang telah Allah rencanakan...??
Wahai Bunda..
Apa-pun kekurangannya, ia adalah darah daging-mu, mimpi yang harus engkau sempurnakan dengan sentuh kasihmu..
Ia tiada mengerti apa yang dia alami..
Bantu ia selami kekurangan itu dengan Kasih-mu.
Sesungguhnya hanya sentuh-mu Ibu, penyempurna rasa segala kekurangan Jiwa-ku..!”
“Semoga tiada lagi tangisan rindu dari anak-anak yang terbuang karena keterbatasanya..!
“Jaga-lah Ananda Bunda.!
Ananda begitu ingin berada didekap-mu..
Bunda..!
Dengar-lah Rintihan Rindu buah hati-mu..
Tangisan Jiwa Anak yang tak akan henti Merindukan-mu..!!”
“Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh”
Sumber: waroeng-hikmah.blogspot.com
“Assalamu'alaikum.wr.wb”
Saudara dan Sahabat ku yg InsyaAllah sllu dirahmati ALLAH SWT..
kami ingin berbagi cerita, berbagi hikmah.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.......
yuk kita luangkan sedikit waktu kita untuk membaca kisah di bawah ini.
yang suka mmbaca, silahkan dibaca dan renungkan..dan yang 'blum' suka membaca, yuk belajar suka membaca! :D
Cerita Kisah berikut ini Berjudul.. ♥ Jangan Benci Aku Mama ♥
(Tangisan Rindu)
“Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki dan suami-ku memberi nama ia Erik.
Aku dan suami-ku begitu bahagia namun ternyata anak-ku mengalami keterbelakangan mental.
Melihat keadaan anak-ku, aku berniat memberikannya kepada orang lain atau dititipkan dipanti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.
Namun suami-ku mencegah niat buruk itu.
Akhirnya dengan terpaksa ku besarkan juga Erik anak-ku..”
“Ditahun kedua setelah Erik dilahirkan, aku dikaruniai seorang anak perempuan cantik yang mungil, ku beri nama Angel.
Aku sangat menyayangi Angel,
demikian juga suami-ku.
Sering kali kami mengajaknya pergi ketaman hiburan, dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.
Namun tidak demikiannya dengan Erik.
Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut.
Suami-ku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikan baju baru untuk Erik, namun aku melarangnya dengan dalih 'penghematan uang keluarga'.
Entah kenapa aku begitu benci melihat Erik hingga tak sedikit-pun aku merasa peduli denganya..”
“Saat usia Angel 2 tahun, suami-ku meninggal dunia.
Erik ketika itu berusia 4 tahun.
Keluarga kami menjadi semakin miskin, dengan hutang yang semakin menumpuk.
Akhirnya aku mengambil keputusan yang membuat-ku menyesal seumur hidup.
Aku pergi meninggalkan kampung halaman-ku bersama Angel, dan meninggalkan Erik yang sedang tertidur lelap kala itu..”
“Setelah meninggalkan kampung halaman, aku memilih tinggal disebuah rumah kecil, sisa menjual tanah untuk membayar utang aku dan suami-ku dulu..”
“10 tahun berlalu sejak kejadian itu....”
“Kini aku telah menikah kembali dengan seorang pria dewasa yang mapan bernama Beni.
Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima.
Berkat suami-ku, aku mampu menghilangkan sifat-sifat buruk-ku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah menjadi lebih sabar dan penyayang..”
“Angel kini telah berumur 12 tahun.
Dan ia kami sekolahkan disebuah sekolah perawatan.
Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik, dan tiada lagi yang mengingatkannya.
Sampai suatu malam, aku bermimpi tentang seorang anak.
Wajahnya tampan, namun tampak pucat sekali.
Ia melihat kearah-ku, sambil tersenyum ia berkata;
“Tante, tante.. Kenal mama saya? Saya rindu sekali dengan Mama”.
Setelah berkata demikian ia mulai berakjak pergi, namun aku menahannya,
“Tunggu..., sepertinya aku mengenal-mu. Siapa nama-mu anak manis..?”
“Nama saya Erik, Tante..!”
“Erik.?! Erik... Ya Tuhan! engkau benar-benar Erik..?”
Aku langsung tersentak terbangun.
Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa-ku saat itu juga.
Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dahulu, seperti sebuah film yang diputar dikepala.
Baru sekarang aku menyadari betapa jahatnya perbuatan-ku.
Rasanya seperti ingin mati saat mengingat itu.
Rasa bersalah mengahantui jiwa hingga tinggal seinci jarak pisau akan aku goreskan kepergelangan tangan, bayang Erik kembali terlintas dan berkata “Mama, Jemput Erik yah Ma, Erik Rindu Mama..”
Aku tersadar dalam derai jiwa sesal-ku.
“Tunggu Mama Nak, Mama akan menjemput Erik, Maafkan Mama Nak..” ucap jiwa sesal ketika itu.
Sore itu juga aku memarkir mobil biru-ku disamping sebuah gubuk, bersama suami-ku yang masih merasa heran dengan sikap-ku.
Suami-ku berkata:
“Maryam, apa yang sebenarnya terjadi..?”
Sambil menangis terisak-isak aku berkata:
“Suami-ku, engkau pasti akan sangat membenci-ku setelah aku ceritakan hal yang telah ku lakukan dulu..”
Tuhan begitu baik kepada-ku memberikan aku Suami-ku begitu baik dan pengertian, setelah tangis-ku reda, aku-pun keluar dari mobil diikuti oleh suami-ku dari belakang.
Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dihadap-ku.
Betapa ku ingat, gubuk ini pernah aku tempati beberapa tahun lamanya dan Erik.....Erik....
Aku meninggalkan Erik disana 10 tahun yang lalu.
Dengan perasaan sedih aku-pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu.
Gelap sekali....
Tidak terlihat sesuatu apa-pun!
Perlahan mata-ku mulai terbiasa dengan kegelapan ruangan kecil itu.
Namun aku tidak menemukan siapa-pun juga didalamnya.
Hanya ada sepotong kain butut tergeletak dilantai tanah.
Ku amati kain itu.
Mata-ku mulai berkaca...
Aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari.
Aku bertanya dalam Hati “Dimana engkau Nak..? Mama disini, maafkan Mama, Mama ingin menjemput-mu Anak-ku..”
Dari luar terdengar suara langkah kaki..
Aku bergegas mengejar langkah itu.
Namun ia bukan-lah Erik, ternyata ia adalah seorang wanita tua.
“Heii...!! Siapa kamu..? Mau apa kamu kemari.?” Tanya Wanita tua itu.
Dengan memberanikan diri aku bertanya kepada nya:
“Ibu.. Apakah ibu kenal dengan seorang anak yang bernama Erik, yang dulu tinggal disini..?”
Tiba-tiba ia menjawab:
“Kalau engkau Ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk.! Tahukan kamu 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya disini, Erik tiada henti memanggil nama-mu “Mama...,Mama...MaaaMaa” Karena tidak tega saya memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu..!!
Tiga bulan yang lalu Erik meninggal, ia meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis selama bertahun-tahun untuk menulis ini untuk-mu..!” Kata Wanita tua itu sambil menyodorkan secarik kertas itu.
Aku-pun membaca isi dari tulisan itu:
(“Mama.. mengapa Mama tidak kembali lagi...? Mama benci yah sama Erik..? Ma.... biar-lah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji kalau Mama tidak akan benci lagi sama Erik..
Ma.. Erik rindu Mama.. Erik sayang Mama...”
(TANGISAN RINDU)
♥ ____________________ ♥
“Wahai Bunda..
Jangan-lah engkau membuang titipan Syurga itu..!!
Bukan-kah ia adalah Anugrah yang telah Allah rencanakan...??
Wahai Bunda..
Apa-pun kekurangannya, ia adalah darah daging-mu, mimpi yang harus engkau sempurnakan dengan sentuh kasihmu..
Ia tiada mengerti apa yang dia alami..
Bantu ia selami kekurangan itu dengan Kasih-mu.
Sesungguhnya hanya sentuh-mu Ibu, penyempurna rasa segala kekurangan Jiwa-ku..!”
“Semoga tiada lagi tangisan rindu dari anak-anak yang terbuang karena keterbatasanya..!
“Jaga-lah Ananda Bunda.!
Ananda begitu ingin berada didekap-mu..
Bunda..!
Dengar-lah Rintihan Rindu buah hati-mu..
Tangisan Jiwa Anak yang tak akan henti Merindukan-mu..!!”
“Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh”
Sumber: waroeng-hikmah.blogspot.com
Sabtu, 12 Oktober 2013
Kisah Nenek dan Minyak Goreng
Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang yang ringkih
dengan kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah
kantong plastik. Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk
disebelahnya, di atas sebuahmetromini yang menuju ke stasiun KA.
Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai. Kelok-berkelok. Hmm…dia tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana.
Saya pun menjawab mau kerja, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.
Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu. Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu, akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya.
Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya. Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa mendapatkan minyak dan tepung gratis.
Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya. Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali. Saya teringat pada Ibu. Allah memang maha bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya.
Sudah beberapa saat waktu sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang terlalu sok sibuk dengan semua urusan kerja. Sering saat pulang ke rumah, saya menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak pagi.
Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan, Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya buat saya.
Dia pasti juga akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya. Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus, seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.
***
Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai. Kelok-berkelok. Hmm…dia tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana.
Saya pun menjawab mau kerja, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.
Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu. Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu, akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya.
Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya. Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa mendapatkan minyak dan tepung gratis.
Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya. Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali. Saya teringat pada Ibu. Allah memang maha bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya.
Sudah beberapa saat waktu sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang terlalu sok sibuk dengan semua urusan kerja. Sering saat pulang ke rumah, saya menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak pagi.
Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan, Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya buat saya.
Dia pasti juga akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya. Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus, seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.
***
Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun
turun. Namun, saya punya punya keinginan hari itu. Mulai esok hari, saya
akan menyantap semua yang Ibu berikan buat saya. Apapun yang
diberikannya. Karena saya yakin, itulah bentuk ungkapan rasa cinta saya
padanya. Saya percaya, itulah yang dapat saya berikan sebagai
penghargaan buatnya.
Saya berharap, tak akan ada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan Ibu. Terima kasih Nek
Sumber: http://virouz007.wordpress.com
Sabtu, 14 September 2013
Hikmah Tentang Kaya Dan Sholeh
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta
berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang
karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi
hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari
Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)
Kisah ini berawal Pada saat saya bertemu dengan seorang kawan di rumahnya,
sambil silaturahim saya ingin mengajaknya berbisnis…
Pa ayo ikut bisnis dengan saya…!
Saya tidak mau … jawabnya mantap
Kemudian saya tanya, kenapa?
Jawabnya: saya takut KAYA…
Saat itu saya kaget… ternyata ada orang yang TAKUT kaya…
Dia sangat faham… kalau menjalankan bisnis resikonya kaya
Lalu saya tanya: kenapa anda takut kaya?
Saya takut hubbuddunya/ saya takut cinta kepada dunia
Dalam hati saya… luar biasa kawan saya ini, ia orang sholeh
Dalam hati saya berdoa
Ya Allah sesungguhnya orang sholeh seperti inilah yang harusnya kaya…
karena kalau kekayaan dipegang sama orang-orang sholeh… insya Allah rahmatan lilalamin
Tapi sayangnya orang sholeh nya tidak mau kaya….Orang kayanya tidak mau sholeh…
Kemudian saya bertanya apakah hubbudunya,… penyakitnya orang kaya saja…?
Tidak … orang miskinpun banyak yang menderita penyakit hubbudunya…
Kalau begitu masalahnya bukan di kaya atau miskinnya… tapi bagaimana sikap kita terhadap harta.
Dengan alasan ini…
banyak umat islam tidak mau bekerja…
tidak mau bekerja keras…
tidak mau berusaha menjadi orang kaya…
tidak mau menjadi orang besar.
Umat islam terlalu besar untuk punya cita-cita kecil…
Umat islam harus kaya seperti kayanya Abu Bakar ashidiq….
Seperti kayanya Umar bin khotob dan Seperti kayanya usman bin affan…
Karena kekayaan merekalah… islam bisa berjaya…
Rosulullah mengajarkan kita untuk
berdoa, ya Allah… aku berlindung kepada Mu dari kekufuran dan kefakiran…
dan aku berlindung dari azab kubur
Yang menjadi masalah bukan seberapa banyak kita mendapatkan uang tapi uang itu dari mana dan untuk apa
kata rosulullah Kita tidak boleh iri kecuali pada tiga orang
Pertama Orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkannya
Kedua orang yang mati syahid
Ketiga Orang kaya yang dermawan
Ingatlah kita adalah harapan masa depan umat…
Bangkit …
harapan itu pasti ada…
Allah bersama kita…
Semoga bermanfaat
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda note ini bermanfaat.
Sumber: http://virouz007.wordpress.com
Sabtu, 25 Mei 2013
Siti, Bocah Yatim yang Tangguh…
Siti Bocah Yatim Tangguh: Jualan Bakso dengan Upah Rp. 2000,- Sehari
SEKARANG BUKAN WAKTUNYA UNTUK AFIKAAA, PSSIIII, KPSSII, POLISI GANTENG ATAU DARSEM… SEKARANG WAKTUNYA UNTUK…
SITIIII…BOCAH PENJUAL BAKSO
Sore kemarin – Selasa, 06 Maret 2012 – saya pulang kantor rada “tenggo”, jadi sampai di rumah jam 17.30-an, saya sempat nonton acara “Orang-Orang Pinggiran” di Trans7. Dada saya sesak menyaksikannya, air mata saya meleleh tanpa bisa ditahan, tak mampu berkata-kata. Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.
Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.
Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.
Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.
Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.
Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.
Kepikiran dengan konsidi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten dan nomor contact person Pak Tono 0858 1378 8136.
Usai sholat Subuh saya hubungi Pak Tono, meski agak sulit bisa tersambung. Beliau tinggal sekitar 50 km jauhnya dari kampung Siti. Pak Tono-lah yang menghubungi Trans7 agar mengangkat kisah hidup Siti di acara OOP. Menurut keterangan Pak Tono, keluarga itu memang sangat miskin, Ibunda Siti tak punya KTP. Pantas saja dia tak terjangkau bantuan resmi Pemerintah yang selalu mengedepankan persyaratan legalitas formal ketimbang fakta kemiskinan itu sendiri. Pak Tono bersedia menjemput saya di Malimping, lalu bersama-sama menuju rumah Siti, jika kita mau memberikan bantuan. Pak Tono berpesan jangan bawa mobil sedan sebab tak bakal bisa masuk dengan medan jalan yang berat.
Saya pun lalu menghubungi Rumah Zakat kota Cilegon. Saya meminta pihak Rumah Zakat sebagai aksi “tanggap darurat” agar bisa menyalurkan kornet Super Qurban agar Siti dan Ibunya bisa makan daging, setidaknya menyelematkan mereka dari ancaman gizi buruk. Dari obrolan saya dengan Pengurus Rumah Zakat, saya sampaikan keinginan saya untuk memberi Siti dan Ibunya “kail”. Memberi “ikan” untuk tahap awal boleh-boleh saja, tapi memberdayakan Ibunda Siti agar bisa mandiri secara ekonomi tentunya akan lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Saya berpikir alangkah baiknya memberi modal pada Ibunda Siti untuk berjualan makanan dan buka warung bakso, agar kedua ibu dan anak itu tidak terpisah seharian. Siti juga tak perlu berlelah-lelah seharian, dia bisa bantu Ibunya berjualan sambil belajar.
Mengingat untuk memberi “kail” tentu butuh dana tak sedikit, pagi ini saya menulis kisah Siti dan memforward ke grup-grup BBM yang ada di kontak BB saya. Juga melalui Facebook. Alhamdulillah sudah ada beberapa respon positif dari beberapa teman saya. Bahkan ada yang sudah tak sabar ingin segera diajak ke Malimping untuk menemui Siti dan memeluknya. Bukan hanya bantuan berupa uang yang saya kumpulkan, tapi jika ada teman-teman yang punya putri berusia 7-8 tahun, biasanya bajunya cepat sesak meski masih bagus, alangkah bermanfaat kalau diberikan pada Siti.
Adapula teman yang menawarkan jadi orang tua asuh Siti dan mengajak Siti dan Ibunya tinggal di rumahnya. Semua itu akan saya sampaikan kepada Pak Tono dan Ibunda Siti kalau saya bertemu nanti. Saya menulis artikel ini bukan ingin menjadikan Siti seperti Darsem, TKW yang jadi milyarder mendadak dan kemudian bermewah-mewah dengan uang sumbangan donatur pemirsa TV sehingga pemirsa akhirnya mensomasi Darsem. Jika permasalahan Siti telah teratasi kelak, uang yang terkumpul akan saya minta kepada Rumah Zakat untuk disalurkan kepada Siti-Siti lain yang saya yakin jumlahnya ada beberapa di sekitar kampung Siti.
Mengetuk hati penguasa formal, mungkin sudah tak banyak membantu. Saya menulis shout kepada Ibu Atut sebagai “Ratu” penguasa Banten ketika kejadian jembatan ala Indiana Jones terekspose, tapi toh tak ada respon. Di media massa juga tak ada tanggapan dari Gubernur Banten meski kisah itu sudah masuk pemberitaan media massa internasional. Tapi dengan melalui grup BBM, Facebook dan Kompasiana, saya yakin masih ada orang-rang yang terketuk hatinya untuk berbagi dan menolong. Berikut saya tampilkan foto-foto Siti yang saya ambil dari FB Orang-Orang Pinggiran. Semoga menyentuh hati nurani kita semua
SEKARANG BUKAN WAKTUNYA UNTUK AFIKAAA, PSSIIII, KPSSII, POLISI GANTENG ATAU DARSEM… SEKARANG WAKTUNYA UNTUK…
SITIIII…BOCAH PENJUAL BAKSO
Sore kemarin – Selasa, 06 Maret 2012 – saya pulang kantor rada “tenggo”, jadi sampai di rumah jam 17.30-an, saya sempat nonton acara “Orang-Orang Pinggiran” di Trans7. Dada saya sesak menyaksikannya, air mata saya meleleh tanpa bisa ditahan, tak mampu berkata-kata. Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.
Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.
Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.
Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.
Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.
Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.
Kepikiran dengan konsidi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten dan nomor contact person Pak Tono 0858 1378 8136.
Usai sholat Subuh saya hubungi Pak Tono, meski agak sulit bisa tersambung. Beliau tinggal sekitar 50 km jauhnya dari kampung Siti. Pak Tono-lah yang menghubungi Trans7 agar mengangkat kisah hidup Siti di acara OOP. Menurut keterangan Pak Tono, keluarga itu memang sangat miskin, Ibunda Siti tak punya KTP. Pantas saja dia tak terjangkau bantuan resmi Pemerintah yang selalu mengedepankan persyaratan legalitas formal ketimbang fakta kemiskinan itu sendiri. Pak Tono bersedia menjemput saya di Malimping, lalu bersama-sama menuju rumah Siti, jika kita mau memberikan bantuan. Pak Tono berpesan jangan bawa mobil sedan sebab tak bakal bisa masuk dengan medan jalan yang berat.
Saya pun lalu menghubungi Rumah Zakat kota Cilegon. Saya meminta pihak Rumah Zakat sebagai aksi “tanggap darurat” agar bisa menyalurkan kornet Super Qurban agar Siti dan Ibunya bisa makan daging, setidaknya menyelematkan mereka dari ancaman gizi buruk. Dari obrolan saya dengan Pengurus Rumah Zakat, saya sampaikan keinginan saya untuk memberi Siti dan Ibunya “kail”. Memberi “ikan” untuk tahap awal boleh-boleh saja, tapi memberdayakan Ibunda Siti agar bisa mandiri secara ekonomi tentunya akan lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Saya berpikir alangkah baiknya memberi modal pada Ibunda Siti untuk berjualan makanan dan buka warung bakso, agar kedua ibu dan anak itu tidak terpisah seharian. Siti juga tak perlu berlelah-lelah seharian, dia bisa bantu Ibunya berjualan sambil belajar.
Mengingat untuk memberi “kail” tentu butuh dana tak sedikit, pagi ini saya menulis kisah Siti dan memforward ke grup-grup BBM yang ada di kontak BB saya. Juga melalui Facebook. Alhamdulillah sudah ada beberapa respon positif dari beberapa teman saya. Bahkan ada yang sudah tak sabar ingin segera diajak ke Malimping untuk menemui Siti dan memeluknya. Bukan hanya bantuan berupa uang yang saya kumpulkan, tapi jika ada teman-teman yang punya putri berusia 7-8 tahun, biasanya bajunya cepat sesak meski masih bagus, alangkah bermanfaat kalau diberikan pada Siti.
Adapula teman yang menawarkan jadi orang tua asuh Siti dan mengajak Siti dan Ibunya tinggal di rumahnya. Semua itu akan saya sampaikan kepada Pak Tono dan Ibunda Siti kalau saya bertemu nanti. Saya menulis artikel ini bukan ingin menjadikan Siti seperti Darsem, TKW yang jadi milyarder mendadak dan kemudian bermewah-mewah dengan uang sumbangan donatur pemirsa TV sehingga pemirsa akhirnya mensomasi Darsem. Jika permasalahan Siti telah teratasi kelak, uang yang terkumpul akan saya minta kepada Rumah Zakat untuk disalurkan kepada Siti-Siti lain yang saya yakin jumlahnya ada beberapa di sekitar kampung Siti.
Mengetuk hati penguasa formal, mungkin sudah tak banyak membantu. Saya menulis shout kepada Ibu Atut sebagai “Ratu” penguasa Banten ketika kejadian jembatan ala Indiana Jones terekspose, tapi toh tak ada respon. Di media massa juga tak ada tanggapan dari Gubernur Banten meski kisah itu sudah masuk pemberitaan media massa internasional. Tapi dengan melalui grup BBM, Facebook dan Kompasiana, saya yakin masih ada orang-rang yang terketuk hatinya untuk berbagi dan menolong. Berikut saya tampilkan foto-foto Siti yang saya ambil dari FB Orang-Orang Pinggiran. Semoga menyentuh hati nurani kita semua
“Based on True Story”
Silahkan di-share jika sahabat pikir artikel ini bermanfaat…
Sumber: http://virouz007.wordpress.com
Rabu, 22 Mei 2013
Kisah Ketegaran Seorang Suami
“Kalau bukan karena kedua anakku yang masih kecil.. maka aku sudah
mengikuti nafsuku untuk segera meninggalkan dan menceraikan istriku yang
tidak berbakti itu. Aku tidak mau meninggalkan apa yang menjadi
amanat-Mu dalam keadaan lemah Ya Allah.”
Di samping ruangan tempat sholatnya, terbaring kedua anaknya yang masih balita, tertidur pulas, ditemani istrinya yang enggan bangun untuk menemaninya shalat tahajjud, walaupun Yudi sudah mencoba untuk membangunkannya.
Itulah jeritan hati Yudi di malam itu..
di tengah heningnya malam, Yudi sudah biasa melewatkan malam malamnya
dengan kemesraan bersama Tuhannya, Allah Swt.
Di samping ruangan tempat sholatnya, terbaring kedua anaknya yang masih balita, tertidur pulas, ditemani istrinya yang enggan bangun untuk menemaninya shalat tahajjud, walaupun Yudi sudah mencoba untuk membangunkannya.
Pagi hari.. Yudi bangun paling awal,
sholat shubuh dan langsung beranjak membereskan seluruh isi rumah,
mengepel, mencuci piring dan memasak, semuanya sudah menjadi rutinitas
Yudi di pagi hari. Setelah selesai, Yudi pun langsung membuka laptopnya
dan mulai bekerja melayani jasa para konsumennya.
Yudi adalah seorang konsultan bisnis,
banyak sekali pengusaha dan para pebisnis yang mengkonsultasikan masalah
bisnis mereka kepada Yudi. Dari penghasilan sebagai konsultan yang bisa
dikatakan cukup menjanjikan, Yudi tetap saja ikhlas menjalankan rumah
tangga yang sudah hampir 7 tahun dijalaninya tanpa keseimbangan
kewajiban suami istri.
Setiap kali Yudi mengajak istrinya untuk
melakukan hubungan, istrinya selalu menolak dengan beralasan kurang enak
badan. Saat Yudi bekerja, jika ada anaknya yang ingin BAB atau BAK,
maka istrinya teriak kepada Yudi untuk mengurusinya. Yudi pun menunda
dulu pekerjaannya, meraih anaknya kemudian membawanya ke kamar mandi.
Saat anaknya ingin diantar jajan, maka Yudi pun diteriaki kembali untuk mengantarkannya ke warung.
Saat istrinya ingin sarapan, maka Yudi diminta pergi ke tukang bubur atau tukang gorengan dekat rumahnya.
Itulah keadaan yang dialami Yudi setiap
hari. Hal ini dialaminya semenjak beberapa bulan lalu, sepulangnya dari
dinas di luar negeri, selama satu tahun lamanya.
Malam hari, saat adzan isya berkumandang,
Yudi langsung beranjak ke masjid sambil mengingatkan istrinya untuk
sholat isya. Sepulangnya dari masjid, Yudi sudah terbiasa melihat istri
dan kedua anaknya sudah terbaring di tempat tidur dan terlelap dalam
mimpi. Yudi pun mencoba membangunkan istrinya dan bertanya, “udah sholat
Isya Bu???” Istrinya menggeleng dengan mata yang sulit untuk dibuka
karena rasa kantuknya. Yudi pun mencoba membangunkan dan memintanya
untuk sholat isya dulu, tetapi istrinya tetap menggeleng, bahkan sampai
berkata “tidak akh Pa.. nanti saja”..
Itulah ketegaran Yudi dalam rumah
tangganya.. aku pun sebagai temannya baru tahu keadaannya seperti itu
saat kudesak Yudi untuk mengutarakan masalahnya, karena beberapa minggu
ini kulihat wajahnya sangat sendu dan selalu murung.
Saat kubilang “kalau aku.. punya istri seperti itu.. sudah kuceraikan dia Di..!” Tapi, Yudi menjawab dengan tenang dan bijak.
“Kalau urusan menceraikan, itu hal yang
mudah.. namun efek yang ditinggalkannya akan terasa sulit bagi anak
anak. Bukankah ada ayat Allah yang menyuruh kita agar jangan
meninggalkan anak anak kita dalam keadaan lemah. Itulah, saya takut anak
anak tidak mendapatkan kasih sayang, pengertian, perhatian serta
kecukupan hidup yang layak, sehingga anak anak menjadi manusia yang
lemah”
“Lalu.. bagaimana dengan hasrat biologismu Yud?? Sampai kapan kamu bisa bertahan??” Tanyaku..
“Sampai dia mau.. kalaupun seumur
hidupnya dia tidak mau, tetap saya tidak akan mencari yang lain. Biarlah
kesabaranku, keikhlasanku terhadap istriku sebagai jalanku untuk
mencapai Ridho-Nya. Allah Swt. Pasti tahu yang terbaik bagiku.. dan
makhluk yang paling indah, paling cantik dan paling membahagiakan bagiku
adalah mendapatkan bidadari di syurga..”
Saya tidak bisa berkata apa apa lagi..
setalah mendengar jawabannya..!! Semuanya pasti sudah Yudi
pertimbangkan, sehingga dia begitu kuat menghadapi kehidupan rumah
tangga yang seperti itu.
Saat banyak orang yang dengan mudahnya
bercerai tanpa alasan yang kuat, saat banyak orang tua yang tidak
bertanggung jawab terhadap anaknya, saat orang seenaknya menyalurkan
hasrat biologis dengan membabi buta, ternyata masih ada orang setegar
dan seikhlas Yudi..
Saya pun mendapatkan pelajaran darinya,
hidup ini adalah ujian.. seberat apapun keadaannya, semuanya akan bisa
dihadapi dengan kesabaran, keikhlasan, dan pengertian bahwa hidup ini
hanyalah sebentar.. hanya sekejap saja, jika dibandingkan dengan
kehidupan akhirat..
Betapapun beratnya, sulitnya serta
banyaknya masalah yang dihadapi.. maka hadapilah dengan sabar, untuk
urusan kebahagiaan.. semoga kita mendapatkan yang hakiki dan abadi di
syurga-Nya Allah Swt. Amiin.
- Jaga anakmu.. karena itu adalah amanat dan investasi buatmu,
- Janganlah mengikuti nafsumu, karena itu hanya akan menjerumuskanmu ke dalam kehinaan,
- Janganlah terpesona dengan keindahan dan kecantikan wanita dunia, karena bidadari lebih indah dan lebih cantik dibandingkan wanita tercantik di dunia, bahkan kecantikan wanita di dunia tidak ada seujung kukunya bidadari syurga,
- Sabar dan ikhlaslah.. Allah mengetahui balasan yang terbaik untukmu..
Semoga kisah ini menjadi pelajaran dan i’tibar bagi kita semua.. Amiin..
Silahkan share jika sahabat pikir artikel ini bermanfaat…
Sumber: http://virouz007.wordpress.com
Senin, 20 Mei 2013
Terima Kasih….
Pada malam itu, Sue bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Sue segera pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun.
Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.
Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati
sebuah Rumah Makan, dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin
sekali memesan sepiring nasi, tetapi ia tidak mempunyai uang.
Pemilik Rumah Makan melihat Sue berdiri
cukup lama di depan etalasenya, lalu bertanya, “Nona, apakah kau ingin
sepiring nasi?” “Tetapi, aku tidak membawa uang,” jawab Sue dengan
malu-malu.
“Tidak apa-apa, aku akan memberimu
sepiring nasi,” jawab pemilik Rumah Makan. “Silahkan duduk, aku akan
menghidangkannya untukmu.”
Tidak lama kemudian, pemilik Rumah Makan
itu mengantarkan sepiring nasi dengan lauk pauknya. Sue segera makan
dengan nikmatnya dan kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa
Nona?” tanya pemilik Rumah Makan.
“Tidak apa-apa. Aku hanya terharu,” jawab Sue sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun
memberiku sepiring nasi! Tapi,…. Ibuku sendiri, setelah bertengkar
denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan
kembali lagi ke rumah. Bapak seorang yang baru kukenal, tetapi begitu
peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri,” katanya
kepada si pemilik Rumah Makan.
Pemilik Rumah Makan itu setelah mendengar
perkataan Sue, menarik napas panjang, dan berkata, “Nona, mengapa kau
berpikir seperti itu?. Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu
sepiring nasi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak makanan
untukmu saat kau masih kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak
berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya.”
Sue terhenyak mendengar hal tersebut.
“Mengapa aku tidak berpikir tentang hal
tersebut? Untuk sepiring nasi dari orang yang baru kukenal aku begitu
berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang telah memasak makanan untukku
selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihakan kepedulianku
kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.”
Sue menghabiskan nasinya dengan cepat. Lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.
Sambil berjalan ke rumah, ia memikirkan
kata-kata yang harus diucapkannya kepada ibunya. Akhirnya, ia memutuskan
untuk mengatakan, “Ibu,maafkan aku, aku tahu bahwa aku bersalah.”
Begitu sampai di depan pintu, ia melihat
ibunya dengan wajah letih dan cemas, karena telah mencarinya ke semua
tempat. Ketika ibunya melihat Sue, kalimat pertama yang keluar dari
mulut ibunya, “Sue, cepat masuk, ibu telah menyiapkan makan malam
untukmu dan makanan itu akan menjadi dingin jika kau tidak segera
mamakannya.”
Sue sangat terharu melihat kasih ibunya
yang begitu besar kepadanya, ia tidak dapat menahan air matanya dan ia
menangis di hadapan ibunya.
Sekali waktu, mungkin kita akan sangat
berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu
pertolongan kecil yang diberikannya kepada kita. Tetapi, kepada orang
yang sangat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, pernahkah kita
berpikir untuk berterima kasih kepada mereka yang telah merawat,
membesarkan, mendidik dan melimpahkan kasih sayangnya kepada kita???
Silahkan share jika Anda pikir cerita ini bermanfaat….!
Sumber: http://virouz007.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)







